Meningkatnya kebutuhan energi dunia dan semakin menipisnya persediaan energi konvensional berbasis fosil telah menyadarkan masyarakat global untuk melakukan penghematan konsumsi energi semaksimal mungkin. Sumber energi fosil selain memerlukan waktu yang lama untuk terbentuk kembali, juga menghasilkan zat-zat pencemar lingkungan yang ditimbulkan dari proses konversi energi konvensional menjadi energi mekanik yang umumnya melalui proses pembakaran.

Sebagaimana diketahui, konsumsi energi berbasis fosil secara global masih sangat tinggi. Data yang direlease oleh Handook of Energy and Economic Statistics of Indonesia (HEESI) pada tahun 2016, menunjukkan tingkat konsumsi energi berbasis fosil mencapai 74,4% dengan perincian antara lain minyak bumi (30,2%), disusul batubara (24,8%) dan gas alam (19,4%).

Sementara untuk Energi Baru dan Terbarukan (EBT) baru terserap sekitar 25,6% dengan peringkat teratas berasal dari bioenergi, disusul tenaga air (hydro power), kemudian geothermal dan tenaga angin (wind power).

Pemakaian energi berbasis fosil yang berlebihan ini ditengarai sebagai penyebab meningkatnya emisi gas rumah kaca yang kian mengkhawatirkan. Selain itu cadangan energi fosil yang semakin menurun dan fakta bahwa energi fosil tidak dapat diperbaharui (unrenewable resources) menjadi alasan perlunya segera mencari energi alternatif atau Energi Baru Terbarukan (EBT).

Salah satunya solusinya adalah dengan memanfaatkan sumber-sumber energi alternatif lain sebagai bahan bakar substitusi yang ramah lingkungan, efektif, efisien dan berkelanjutan (renewable resources) misalnya memanfaatkan cangkang sawit yang merupakan limbah padat dalam industri kelapa sawit.

Cangkang sawit (palm kernel shell) merupakan sumber bioenergi yang memiliki nilai kalori tinggi (4200 Kal/Kg) dan memiliki kandungan sulphur yang sangat rendah. Selain dapat mengurangi emisi karbon, pemanfaatan cangkang sawit sebagai bahan bakar dinilai lebih menguntungkan. Ketersediaan pasokan cangkang sawit juga tidak perlu diragukan mengingat area perkebunan kelapa sawit di Indonesia masih sangat luas.

Berbagai studi ilmiah telah membuktikan manfaat cangkang sawit sebagai bahan bakar alternatif yang ramah lingkungan dan ekonomis. Sebagai perbandingan, untuk menghasilkan energi listrik sebesar 10 MW maka biaya yang dikeluarkan untuk pembelian cangkang sawit hanya sekitar Rp.762 ribu. Sementara jika menggunakan batubara akan membutuhkan biaya sekitar Rp.1,4 juta, Sedangkan jika menggunakan solar akan membutuhkan biaya sekitar Rp.2,9 juta.

 

Pasar Ekspor Cangkang Sawit Masih Terbuka Lebar 

Seiring meningkatnya permintaan cangkang sawit tersebut maka PT. eKomoditi Solutions Indonesia mengambil peluang bisnis ini sebagai salah satu komoditi unggulannya dengan menggandeng beberapa pabrik kelapa sawit baik di Sumatra maupun Kalimantan sebagai supplier. Ekomoditi juga menjajaki pasar ekspor khususnya ke Jepang, Taiwan, Korea Selatan, China dan beberapa negara Eropa, yang memiliki komitmen kuat dalam penggunaan energi ramah lingkungan (green energy).

Saat ini, harga cangkang sawit kualitas ekspor berkisar sekitar US$ 80-90 per ton FOB atau US$ 110-120 per ton CIF. Data yang direlease oleh Asosiasi Pengusaha Cangkang Sawit Indonesia (APCASI) menunjukkan produksi cangkang di Indonesia tidak kurang dari 8 juta ton per tahun. Dari jumlah ini, kuantitas ekspor baru sekitar 1,5 juta ton per tahun dengan nilai ekspor total mencapai lebih Rp.2 triliun.

Permintaan ekspor cangkang sawit terus meningkat dari tahun ke tahun, khususnya ke negeara-negara industri maju, terutama Jepang. sejak meledaknya PLTN Fukushima akibat gempa dan tsunami tahun 2011 lalu, permintaan cangkang sawit ke Jepang meningkat hingga 40%. Bahkan Jepang telah menandatangani kontrak kerja dengan Indonesia untuk penyediaan cangkang sawit hingga 10 tahun ke depan.

Berdasarkan laporan Kementerian Ekonomi, Perdagangan dan Industri Jepang, tercatat upaya pengelolaan pencampuran sumber daya energi di Negeri Sakura saat ini sudah mencapai 14,6% dalam bentuk Energi Baru dan Terbarukan (EBT) dan akan meningkat menjadi 25% pada 2030. Itu berarti cangkang sawit telah menjadi primadona baru sebagai bahan bakar yang murah, efisien dan ramah lingkungan.

Leave a Reply